-
- Judul Buku : 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedelapan, Februari 2012
Tebal : 221 halaman
Namanya Iwan Setyawan, seorang anak supir angkot yang sanggup menjadi lulusan terbaik Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, bahkan dia pernah menjabat sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan multinasional, Nielsen New York.
Sejak kecil Iwan selalu diajarkan cinta, kasih sayang, dan kesederhanaan dalam keluarganya. Keluarga besar yang tinggal di rumah berukuran 5×7 meter persegi di kota Batu. Menurutnya, Ibunya adalah seorang kartini sejati, karena di tengah keterbatasan ekonomi, beliau mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus kuliah semua.
Arek Batu yang bercita-cita mempunyai kamar sendiri ini sangat-sangat menyayangi keluarganya,terutama ibunya. Dia juga sosok yang tahan banting dan selalu melakukan yang terbaik untuk semua pekerjaan dan tugas-tugasnya, maka tak heran jika dia mampu menjadi seorang direktur di New York. Dibalik ketangguhannya itu ternyata dia adalah seorang yang lembut, sangat menyukai yoga dan puisi. Dengan yoga dia bisa menenangkan diri di kesepian New York, dengan puisi dia bisa berekspresi.
Namun dibalik semua kesuksesannya, saya kurang sreg dengan dirinya yang kurang srawung dengan teman-temannya. Sejak kecil sampai lulus kuliah dia lebih sibuk dengan buku-buku pelajarannya, makanya saya tak heran dia mampu meraih lulusan terbaik MIPA IPB, lha wong mahasiswa kupu-kupu, hehehe. Dia juga terlihat kesulitan lho pas pertama kali kerja, kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, karena pada dasarnya pas kuliah gak pernah berorganisasi.
Buku ini juga menunjukkan tentang The Power of Education, mas Iwan bisa seperti itu karena pendidikan. Sangat kecil kemungkinannya seorang arek Batu yang hidup di keluarga sopir angkot bisa pergi ke New York dan bahkan menjadi direktur di sana. Maka dari itulah, pendidikan sangatlah penting bagi negara kita tercinta, apalagi ini negara yang sedang berkembang.
Membaca buku putih ini kita dibuat keputihan, maksud saya kita dibuat malu dengan keadaan kita yang serba berkecukupan tetapi hal-hal yang kita lakukan tidak cukup alias di bawah standar. Mas Iwan yang serba kekurangan saja bisa melakukan hal-hal yang lebih dari cukup, lha kita?
Suasana melankoli juga sangat kental dalam novel yang diangkat dari kisah nyata ini, apalagi si penulis sering menyisipkan penggalan-penggalan puisi favoritnya. Gaya bercerita yang melankoli ini justru menunjukkan betapa bersahaja sosok seorang Iwan Setyawan, seorang arek Batu yang jadi mantan direktur di New York.
Penulis memilih sudut pandang orang ketiga untuk mengisahkan hidupnya. Dengan mengajak seorang anak kecil sebagai seorang mediator. Saya kurang bisa menangkap siapakah gerangan si anak kecil itu, apakah ada hubungannya sama si penulis atau kah hanya karangan si penulis sebagai mediator untuk mengisahkan dengan sudut pandang orang ketiga.
Terakhir, buku ini menginspirasi saya untuk be myself, dare to be different, and do my best!
Selamat membaca
Salam,
Rahmanu

kayaknya ini buku lagi dipinjem fajar ya?
pernah liat sih di togamas, waktu itu saya pikir buku ini cuma kisah fiktif inspirasional aja, ternyata beneran toh.
bukan dipinjem Fajar, tapi dipinjem Anis hehehe
aku tau buku ini dari KickAndy, penulisnya cerita langsung tentang kehidupannya
wah ga usah baca cerita orang,skrng mending bikin cerita sendiri
salam
baca cerita orang itu salah satu bentuk upgrading diri, Ve
)